Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Nilai Kehidupan. Show all posts

Kisah Mbah Lan di Pulau Bali

Pria berperawakan mungil ini sudah lebih dari 40 tahun bermukim di Bali, awalnya jadi pencari bibit udang di Gilimanuk, kemudian menjadi tukang gali kabel di Tabanan, dan sejak 30 tahun tinggal di sekitar Badung, Sanur, Nusa Dua dan Kuta.
“Saya ke Bali ketika bus masih bertarip Rp 5.000 sekali jalan dari Jember sampai Ubung, tapi saya hanya berani sampai di Gilimanuk biar gampang pulangnya,” tutur Mbah Lan, 78 tahun. Bagi lelaki kebanyakan, usia seperti itu sudah termasuk sepuh, lansia, manula dan julukan uzur lainnya. Tapi bagi Mbah Lan yang asli kelahiran Lumajang ini, usia tua bukan sekedar buat merenungi kejayaan masa muda sambil membayangkan surga.
Labels: Nilai Kehidupan

Ibu dan Cintanya yang Tidak Pernah Habis

Ibu, adalah sebuah kata yang istimewa.Banyak versi untuk menyebut seorang ibu: mama, bunda, emak, mami, embok, ummi, mother, dan lmasih banyak lagi. Namun essensinya, beliau adalah seorang perempuan mulian yang telah menggadaikan nyawanya sewaktu melahirkan kita dan mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkan, menyayangi, mencintai, dan mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang kedewasaan untuk menjadi manusia yang dewasa dan sempurna.
Labels: Nilai Kehidupan

Meski Tubuh Tidak Sempurna, Hantarkan Anak ke Perguruan Tinggi

Mempunyai tubuh yang tidak sempurna, bukan berarti menjadi alasan untuk menyerah kepada nasib, berpangku tangan atau  menyalahkan kepada takdir.  Itulah alasan yang dikemukakan oleh Aban (45), yang memiliki cacat tubuh sejak lahir, sehingga bisa menikmati kehidupan sebagaimana dijalani orang normal pada umumnya.  Ia kini memiliki sebuah usaha yang cukup memadai, yang ia sebut sebagai “bengkel berjalan”.
Labels: Nilai Kehidupan

Bocah Sebelas Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga

“Aku sayang samo ibu. Aku ndak membahagiakan ibu. Kasian ibu baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ),” ujar anak usia 11 tahun, M Kelvin, lirih. Ia tak sanggup menahan air matanya, saat menceritakan kisahnya kepada penulis, Rabu (28/12). M Kelvin, siswa kelas V SDN 06 Kelurahan Banyumas, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu ini sudah menjadi tulang punggung keluarga sepeninggal ayahnya, karena menikah lagi dengan perempuan lain.
Kelvin, panggilan akrabnya, bukanlah anak biasa seperti anak-anak lain pada umumnya. Meski ia baru menginjak usia 11 tahun, tetapi ia sudah menjadi sosok yang dewasa. Kemiskinan dan keadaan keluarga telah memaksanya sehingga menjadi tulang punggung dalam keluarga.
Labels: Nilai Kehidupan

The power of No!

Pembaca, saya ingin share kepada Anda soal kekuatan dari mengatakan
TIDAK dalam hidup kita. Bukankah kita lebih banyak diajar untuk
mengatakan YA kepada orang lain serta tidak menolak orang lain, sejak
kita masih kecil.
Labels: Nilai Kehidupan