Pria berperawakan mungil ini sudah lebih dari 40 tahun bermukim di Bali, awalnya jadi pencari bibit udang di Gilimanuk, kemudian menjadi tukang gali kabel di Tabanan, dan sejak 30 tahun tinggal di sekitar Badung, Sanur, Nusa Dua dan Kuta.
“Saya ke Bali ketika bus masih bertarip Rp 5.000 sekali jalan dari Jember sampai Ubung, tapi saya hanya berani sampai di Gilimanuk biar gampang pulangnya,” tutur Mbah Lan, 78 tahun. Bagi lelaki kebanyakan, usia seperti itu sudah termasuk sepuh, lansia, manula dan julukan uzur lainnya. Tapi bagi Mbah Lan yang asli kelahiran Lumajang ini, usia tua bukan sekedar buat merenungi kejayaan masa muda sambil membayangkan surga.
Labels:
Nilai Kehidupan







